Rasanya Jadi Generasi Millennial

08 Nov

Rasanya Jadi Generasi Millennial

 “Setya Novanto ke toilet saat nonton bioskop, filmnya yang dipause” kicau salah seorang warga twitter meramaikan hastag #ThePowerofSetyaNovanto. Ngakak! Saya sangat terhibur saat membaca tweet tersebut, mengingat saya sering menahan buang air kecil karena tak mau ketinggalan sedetik pun adegan film yang saya tonton di bioskop. Hal seperti ini yang kadang membuat saya bahagia lahir di era digital, mengenal dunia maya, dan kadang terlibat di dalamnya. Jadi ingat salah satu film tentang masa depan berjudul HER, Spike Jonze selaku sutradara berhasil membuat saya bimbang, antara tak sabar dan takut menyambut masa depan. Kalian tahu kenapa?

  Awal tahun 2014 film ini cukup ramai diperbincangkan, kesendirian begitu indah digambarkan lewat sosok pria dewasa bernama Theodore yang diperankan oleh Joaquin Phoenix, terlebih saat dirinya berkenalan dengan Samantha, nama untuk sebuah software terbaru dengan sistem operasi intelegensi artifisial atau kecerdasan buatan yang membuat Theodore semakin ‘betah’ hidup dengan smartphone nya saja. Perlu kalian ketahui, dalam film ini Samantha hanya mengeluarkan suara saja, beneran ‘temen ngobrol’ untuk Theodore, persis seperti orang yang sedang nelpon menggunakan headset, tapi Samantha bukan orang, apalagi setan. Samantha adalah bagian dari perkembangan teknologi canggih yang di hadirkan dalam film HER, melalui suara ia belajar memahami karakter penggunanya dan menimbun informasi yang ia dapat dari obrolan tersebut.

 Rabu, 27 September 2017 dalam acara New Customer Experiance In Digital Era, saya merasa teknologi dalam film HER akan menjadi kenyataan, lebay, kebanyakan nonton film nampaknya saya, hehe. Tapi beneran deh, ada yang tahu VIRA? Inovasi terbaru dari Bank BCA yang sistem penggunaanya sama seperti Samantha, meskipun Vira baru sebatas tulisan bukan suara. Saya merasa Vira merupakan awal dari perkembang telnologi canggih saat ini, Bank BCA nampaknya tahu kebiasaan generasi millenial saat ini yang suka sekali dengan aplikasi chatting, untuk itu Vira hadir dibeberapa aplikasi chat populer seperti Facebook Massanger, LINE dan Kaskus Chat. Tahu chat bot?  yang kalau jawab lebih cepat dari pacar kamu, seperti itulah kira-kira Vira.

 Rasa penasaran mulai tumbuh, itulah salah satu karakter wajib generasi millennial yang saya tahu dan rasakan, untuk itu saya mencoba add Vira melalui LINE, cukup search ‘BANK BCA’ kemudian add, dan Vira pun langsung menyapa, bahkan untuk penggunaan pertama kali Vira akan memberikan tiket nonton gratis loh, “Vira ngerti aku banget deh pokoknya”. VIRA sendiri adalah singkatan dari Virtual Assistant, Chat bot yang tak perlu download, simple tinggal add, Vira mencoba memahami apa yang diinginkan penggunanya, semacam mentranslate bahasa komputer ke bahasa manusia agar memberikan  jawaban yang diminta, namun Vira juga belajar dari penggunaanya, semakin banyak digunakan maka Vira semakin berkembang.

 “Chat akan lebih booming dari pada voice” kata Ibu Grace Heny pada kesempatan presentasi di acara tersebut. Yes, saya merasa chat masih populer meskipun tingkat kecelakaan akan lebih tinggi jika digunakan saat berkendara. Pernah gak sih kalian kesal sama driver ojek online (ojol) yang main hp saat berkendara? Beberapa kali saya melihat kecelakaan terjadi karena si driver sibuk membalas chat, saat itu saya berada di dalam taksi dan spion si ojek online  ‘nyenggol’ spion taksi, terjadilah hal yang seperti kalian pikirkan. Dalam kasus ini saya tak ingin menyalahkan abang ojol sepenuhnya (generasi millennial memang gini, keren! selalu berusaha melihat dari dua sisi) karena faktanya ia pasti chatting dengan orang lain, pelanggan nya yang kadang gak sabaran, saya juga pernah berada di posisi tersebut bahkan semua orang pasti pernah. So, apa yang harus kita lakukan? Stop egois ketika berada di ruang publik, ingat, sekarang banyak juri publik yang siap upload kalau ada kesalah yang belum tentu salah.

 Menjadi bagian dari generasi millennial artinya saya siap dicap sebagai pribadi yang berbeda, bahkan saat saya tak membalas like foto di Instagram, “kok masih mau sih temenan sama Aris?- Sombong gak pernah bales like”wtf! Hanya karena saya tak membalas like saya dicap sebagai orang yang sombong? Okay! Coba kalian jawab, haruskah saya like foto burem yang terlihat seperti cctv menangkap sosok penampakan di kegelapan? Atau selfie yang satu frame isinya muka semua tanpa editan beauty? Ayolah, pintar sedikit, aplikasi editan sudah banyak banget, kamera smartphone sudah smart, cobalah berpikir untuk memaksimalkan teknologi yang ada saat ini. Ya, teknologi berkembang! Apakah orang nya berkembang juga? Otak nya berpikir juga? Itu yang jadi pertanyaan.

 Menjadi bagian dari generasi millennial adalah satu hal yang membuat saya semakin menikmati hidup, saya merasa semua pintu terbuka, semua ada digenggaman. Oh no, saya merasa akan terlihat sombong kali ini, meskipun ini bukan kesombongan tapi sebuah ambisi. Harusnya kita belajar dari aplikasi Traveloka, awal nya sulit digunakan namun sekarang mudah sekali dan menjadi pilihan utama jika ingin refreshing, itu karena apa? Mengenal lebih dekat! Kita gak akan tahu bagaimana sifat seseorang jika tak pernah jalan bareng, ketemu saja hanya sepintas itu pun tak saling sapa, dan terburuknya adalah ketika mengenal saya dari omongan orang, ya mungkin saya kurang eksis, hehe.

 “kita percaya bahwa inovasi itu akan membuat hidup kita menjadi mudah” tegas Hence Steve selaku Head of Custumer Operation Traveloka, nah bener banget deh apa yang dikatakan beliau. Sudah menjadi rahasia umum kalau generasi millenial sekarang enak, semua serba ada, seperti yang saya bilang tadi “semua ada digenggaman” tapi bukan berarti kita merasa aman loh ya, pernah saya merasa satu hari pikiran saya isi nya sampah semua karena mudahnya informasi yang masuk, sulit mensortir berbagai berita saat ini, bagi saya semakin mudah juga berarti semakin berhati-hati. Menjadi bagian dari generasi millennial juga membuat saya bangga, apalagi ketika ‘kami’ secara tak langsung dijadikan sebagai salah satu alasan pemerintah terus mengembangkan pelayanan publik, iya dong, karena faktanya generasi millennial adalah generasi kritis, apalagi disosmed, hehe.

 Salah satu terobosan baru pemerintah adalah “SATU NOMOR SATUKAN KITA”, sebuah visi Jakarta Siaga 112 yang saat ini sedang fokus pada peningkatan ketangguhan kota Jakarta dalam menghadapi bencana. 112 adalah nomor darurat yang bisa kita gunakan dengan bijak untuk mendapatkan respon tercepat dari dinas terkait ketika ada kebakaran, kecelakaan, ataupun keadaan darurat lainnya. JAKARTA SIAGA 112 bekerjasama dengan Pemda DKI, Kominfo, BCA dan 168 Solution, yang terlibat di dalamnya ada Dishub, Satpol PP, Pemandam Kebakaran, Ambulan Gawat Darurat (AGD) dan Kepolisian. Ngapain aja mereka semua? Saya pun baru tahu kalau prosesnya seperti ini, jika ada kecelakaan, pemadam kebakaran harus dibantu oleh posko lintas dari Dishub sebagai pembuka jalan, untuk mengubah lampu merah menjadi hijau, kemudian Pol PP hadir untuk peningkatan keamanan, serta AGD untuk mengawal dan kepolisian untuk pengamanan lanjutan.

 Ibarat sebuah gedung, generasi millennial hanya ingin memberikan warna baru agar gedung tersebut semakin nyaman untuk disinggahi tanpa mengubah pondasi utamanya. Harapannya, semua orang bisa masuk tanpa membandingkan masa lalu gedung tersebut karena sejatinya semua pasti mengalami perubahan, meskipun kecil. Melalui acara ini saya belajar bahwa teknologi sebenarnya juga belajar  dan berkembang dari input kita sebagai pengguna, kebanyakan teknologi diciptakan untuk mempermudah maka gunakanlah dengan mudah, dan bijak tentunya. 

 

Written by : Arisman Riyadi

http://www.riyardiarisman.com/2017/10/rasanya-jadi-generasi-millennial.html

  • 08 Nov, 2017
  • 168Solution Public Class

Share This Story